Program Tol Laut Dianggap Tidak Tepat Sasaran, Layak Dievaluasi Dan Ditinjau Ulang

0
137

SURABAYA–Suksesinasional.Com – Pelaksanaa Program Tol Laut yang merupakan program unggulan bersubsidi pemerintah yang awalnya diduga akan mampu mendobrak disparitas harga diberbagai daerah kini mendadak jadi bahan perbincangan.

Pasalnya, Program unggulan yang juga merupakan salah satu program Nawa Cita dalam konsep Poros Maritim ternyata saat ini dinilai kurang tepat sasaran dan hanya pemborosan.

Terlebih, setelah program Tol Laut digulirkan dan hasilnya ternyata tidak mampu menurunkan disparitas harga sehingga sempat muncul tudingan minor terhadap sejumlah anggota INSA yang dituding telah melakukan monopoli.

Namun tudingan tersebut terbantahkan dan dengan tegas INSA memberi klarifikasi yang membantah keterlibatan anggotanya.

Tidak sampai disitu, bahkan sempat berhembus pelaksanaan Tol Laut agar segera dihentikan karena dianggap tidak dapat mencapai target tujuan yang diharapkan.

Dimana program Tol Laut ternyata tak mampu mendobrak disparitas dan penyeimbang harga-harga barang di daerah sehingga program Tol Laut sudah saatnya untuk ditinjau ulang.

Sejumlah assosiasi nasional berharap agar pemerintah segera melakukan evaluasi untuk menilai seberapa besar capaian program Tol Laut tersebut.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim, Deddy Suhajadi sangat bersepakat, jika program subsidi di bidang logistik transportasi laut itu untuk dievaluasi.

Hal tersebut dengan alasan tak ingin kehadiran pemerintah hanya dipandang retorika dan teori saja, tanpa menghadirkan solusi terbaik dalam dunia maritim.

Sudah saatnya perlu dilakukan evaluasi, agar kehadiran pemerintah dalam program Tol Laut lebih tepat sasaran,” harap Deddy saat dikonfirmasi terkait peran Tol Laut dan kelangsungannya, Minggu (1/12/2019).

Menurutnya lagi, ada dugaan kesalahan penanganan pelaksanaa program penyelenggaraan Tol Laut yang selama ini telah berjalan sejak tahun 2014 tersebut. Hal itu dilihat dar8 keberadaan Tol Laut belum mampu menekan cost, khususnya di wilayah-wilayah tujuan.

Dilihat dari hasilnya, ada atau tanpa Tol Laut sepertinya tidak ada bedanya. Distribusi barang tetap berjalan sementara disparitas harga barang tak mampu diseimbangkan.

Yang terpenting, pemerintah harus lebih teliti dengan tidak gegabah menambah armada kapal untuk program Tol Laut”, katanya.

“Dengan begitu, efeknya ke Tol Laut juga bisa menekan cost, dan biaya angkut lebih murah. Karena selama ini yang menikmati Tol Laut itu pengusahanya atau pemilik barang,” tuturnya.

Sementara itu mewakili pelaku bisnis dibidang pelayaran. Lukman Lajoni mengatakan bahwa tujuan Program Tol Laut sebenarnya bukan untuk menekan disparitas harga, melainkan bagaimana menumbuhkembangkan ekonomi di daerah tujuan Tol Laut sesuai spesifikasi maupun potensinya.

“Apakah itu pertaniannya, perikanannya atau potensi lainnya yang bisa dikembangkan. Dengan demikian, kapal dari barat ke timur atau sebaliknya bisa berlayar seiring untuk menjemput potensi tersebut,” tegas Lukman Lajoni.

Lebih jauh Lukman menguraikan bahwa tujuan Program Tol Laut hanya untuk disparitas harga agar tidak mencolok antara daerah satu dengan lainnya di wilayah Indonesia ini.

Apabila hal tersebut yang dijadikan patokan, menurutnya yang diuntungkan hanya pedagang dan bukan masyarakat.

“Hampir Rp400 miliar uang negara menguap karena subsidi Tol Laut hanya untuk bangun kapal. Jadi, Tol Laut itu diduga sudah menyimpang dari konsep dan tujuan semula.

Orientasinya pada proyek bukan lagi tepat guna,. Dan perlu diketahui apa yang saya katakan, akan saya pertanggungjawabkan,” tegasnys.

Terpisah Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Stenvens H Lesawengen mengatakan dengan cost logistik yang hanya 5 – 6 persen adalah tidak mungkin dapat mendobrak disparitas harga sebagaimana yang diharapkan.

Bagaimana mungkin dgn cost logistik yang tak kurang dari 5 – 6 persen mampu mengendalikan disparitas harga. Yang terjadi kami malah akan over suply”, jelasnya. (dung/JIP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here