Masyarakat Maritim Berharap Lockdown Tak Terjadi di Pelabuhan

0
313
FOTO ISTIMEWA -- Stenven H Lesawengan dan Dwi Agus - Ketua dan Sekretaris INSA Surabaya (REPORTER / Dudung Wahyudi )

SURABAYA–Suksesinasional.Com – Genderang perang terhadap COVID 19 atau virus corona yang telah menebar teror menakutkan ke seantero dunia terus ditabuh. Untuk mengantisipasi penyebaran dan penularannya sejumlah negara telah melakukan hal terburuk sekali dalam sejarah dengan menutup total semua aktivitas umum secara nasional dengan batas tertentu atau “Lockdown”.

Di tanah air, sejumlah Bandar udara telah melakukan Lockdown demi mencegah masuknya para touris dari luar yang terinfeksi virus corona. Namun untuk pelabuhan laut, masyarakat maritim berharap pemerintah tidak gegabah untuk memberlakukan lockdown.

Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya, Stenven H Lesawengan didampingi Sekretaris INSA Dwi Agus didepan awak media mengatakan akan terus melakukan koodinasi dengan Kantor Kesehatan Oelabuhan (KKP) dan semua pemangku kepentingan di Tanjung Perak untuk antisipasi masuknya para ABK kapal asing yang terindikasi infeksi virus corona di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Jika sampai Tanjung Perak diberlakukan lockdown, maka ekonomi Indonesia akan lumpuh total. Dan ini bukan guyonan tapi sangat serius ,” tegas Stenvens H Lesawengan, Selasa (17/3/2020).

Lebih rinci menurut Stenven, INSA sangat kuatir jika lockdown di pelabuhan ditetapkan yakni nilai importasi Indonesia akan mengalami pemurunan hingga 60%. Dan bila antisipasi penyebaran wabah Coronavirus ini bisa tercapai maka INSA berharap pemerintah dapat membatalkan kebijakan terburuk lockdown sebagai solusi akhir.

“Hingga saat ini sudah tercatat hampir 200 kapal yang masuk ke Indonesia, khususnya Surabaya diluar kapal penumpang. Dan hingga detik ini pihak KKP belum menemukan indikasi ABK yang terindikasi infeksi virus corona”, ungkap Stenven

Menurut Stenven lagi, dimana sesuai lifting performance untuk cargo in out atau dari dan ke Surabaya, hampir 70 persen berasal dari Cina. Jadi dibayangkan jika kargo dari Cina pasti ada penurunan dan kondisi ini akan terasa dalam 1 atau 2 bulan ke depan.

“Prinsipnya, INSA setuju KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan, red) yang terdepan. Apapun yang dilakukan KKP, sebagai pihak yang berwenang dalam kondisi ‘luar biasa’ ini, kami dukung,” tandasnya.

Lebih jauh tambah Stenvens bahwa INSA dengan 14 anggotanya dan bersama seluruh stakeholder di Tanjung Perak, termasuk KKP telah mengantisipasi penyebaran virus Corona melalui tindakan pemeriksaan pada anak buah kapal (ABK)/kru. Dalam hal ini tidak ada pengecualian, apalagi dengan kapal-kapal asing yang sandar di Tanjung Perak. “ABK kami periksa sesuai SOP kapal dan kesehatan yang dijalankan KKP, jelasnya.

Corona Charge

Selanjutnya Stenvens akan berkoordinasi dengan PT Pelindo III untuk mendorong agar secepatnya mengeluarkan SOP penanganan virus Corona di pelabuhan. Sekaligus, INSA Surabaya ingin menuangkan keinginannya terkait stimulus pemberian insentif untuk pelayaran di masa bencana wabah Corona masih terus menghantui.

“Istilahnya, Corona charge. Kami hanya meminta izin atau mengusulkan agar ada kelonggaran free storage, free lolo, atau CHC. Minimal tiga poin itu mendapat perhatian”, harapnya.

Dengan kebijakan tersebut nantinya, diharapkan akan mampu menekan beban operasional maskapai pelayaran akibat penurunan impor menggunakan kontainer. Diakui, impor beragam produk dengan kontainer, menurun hingga 60% semenjak isu virus Corona merebak di Wuhan China.

“Sejumlah komoditas mengalami penurunan misalkan saja untuk komoditas tertentu, seperti plastik mengalami penurunan hingga 65 persen,” terang Dwi Agus.

Dampak minor virus Corona ini menjadikan impor barang dari Cina menjadi terhambat. Praktis, sebagian besar maskapai pelayaran di Indobesia khusunya diTanjung Perak mengalami kekurangan kontainer untuk pengiriman barang.

“Terpaksa harus repo (mendatangkan, red) kontainer kosong dari pelabuhan-pelabuhan terdekat, seperti Singapura atau Malaysia untuk mengirim barang ke luar negeri,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Umum Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu (16/3) menghimbau agar masyarakat tidak perlu panik hingga melakukan aksi borong barang (panic buying). Ia mengingatkan, apabila kondisi ini tidak segera diubah, akan memicu naiknya harga barang pokok, atau barang kebutuhan lainnya.

“Kalau diukur dari aktivitas bongkar muat, semua kebutuhan masyarakat masih cukup tersedia,” jelas lelaki yang juga duduk sebagai Ketua VI (Bidang Angkutan Barang) DPP Organda tersebut.

Menyangkut hal ini, Kody justru menyayangkan, pemberitaan media televisi yang cenderung menayangkan soal virus Corona. Padahal, jika ditelusuri, kasus kematian akibat Covid-19, hanya 3%, atau jauh lebih rendah daripada korban SARS.

“Angka kematian SARS ini bisa mencapai lebih dari 30 persen. Tapi, televisi setiap hari yang diberitakan virus Corona,” jelasnya. (dung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here